Tepat satu hari yang lalu,
ditanggal 8 Agustus 2016 pukul 3 dini hari aku harus masuk ke UGD karena rasa
sakit di area perut yang sudah teramat sangat. Yaaa, sakit itu diakibatkan oleh
GERD (Gastroeosophageal Reflux Disease) yang saat ini sedang terjadi di
tubuhku. GERD, adalah kondisi dimana asam lambung meningkat dikarenakan salah
makan atau tingkat stress yang terlalu tinggi. Dan tidak seperti gejala asam
lambung pada biasanya, gas asam ini akan naek ke kerongkongan bahkan sampai
tenggorokan dan dapat menimbulkan peradangan hebat hinggah muntah darah.
Kondisi jauh dari keluarga dan
pasangan membuatku sedih karena harus meminta tolong kepada siapa aku tengah
malam seperti itu. Beruntungnya aku memiliki teman-teman kerja yang sangat
baik. Singkat cerita, aku bekerja di salah satu perusahaan pembangkit listrik
di daerah Paiton Probolinggo. Mana Paiton itu?? Kalau kalian pernah ke Bali
melalui jalur darat dan melihat satu area yang banyak sekali gemerlap lampunya,
itulah kantor saya.
Malam itu aku bingung harus
bagaimana dengan kondisi ini. Dan tanpa berfikir lagi aku memutuskan untuk
segera membawa diriku ke salah satu rumah sakit di Surabaya. Karena jarak
paiton-surabaya sekitar 3 jam, aku tak mungkin menyetir mobil sendirian dan
beruntungnya ada mereka berdua yang kala itu masuk sore dan belum tertidur.
Sesampainya di UGD aku langsung
ditangani seorang dokter ganteng. Dia menginjeksikan obat supaya rasa sakit
diperutku segera hilang. Dan beruntungnya lagi aku tidak harus di rawat inap
seperti kondisi pertama dulu saat aku terkena GERD.
Keesokan harinya, 9 Agustus 2016
aku memutuskan untuk tetap berangkat kerja. Dan sesampainya di kantor menjalani
pekerjaan seperti biasanya. Hingga saat istirahat tiba dan beberapa orang
berkumpul di ruanganku. Menanyakan bagaimana kondisi ku? Mengapa aku sekarang
ini begitu lemah dan gampang terserang sakit? Menyuruhku untuk menjaga pola
makan dan tidak terlalu memforsir diriku untuk bekerja.
Tapi tiba-tiba ada suatu
pertanyaan yang membuatku merasakan sesak kala itu. Ada yang bertanya, “Kemaren
kamu ke Surabaya di antar siapa? Bagaimana rasanya ketika kamu sakit dan kamu
LDR? Apa yang kamu rasakan ketika pasanganmu hanya bisa mengomentarimu melalui
chat saja sementara disini teman-teman mu yang dengan tulus menolongmu dengan
tindakan? Apa yang dia lakukan ketika kamu dalam kondisi saat ini?”
Dari semua pertanyaan itu aku
hanya menjawab pertanyaan pertama. Rasanya sakit akan pertanyaan itu. Bukan
karena ketidakhadiran kentut di samping ku saat aku sedang lemah, bukan karena
dia hanya bisa memantauku lewat chat, bukan karena dia tidak bisa langsung
menolongku disaat aku terjatuh lemas. Tapi karena pikiran orang lain terhadap
kentut yang seperti itu. (Oiya, saat ini aku dan kentut sudah memiliki hubungan
lebih dari sahabat. Kami sudah
berkomitmen memiliki hubungan special, namun kami menjalani Long Distance
Relationship. Untuk cerita bagaimana kami jadian di cerita tersendiri ya).
Aku ingin bilang ke mereka, bahwa
apa yang kalian ungkapkan itu semua salah. Aku tau bagaimana kentut menjagaku
dan aku tau kalau dia disini pasti dia akan melakukan apapun demi kesembuhanku.
Namun, tiba-tiba aku tertegun saat membaca chat kentut yang mengatakan “Aku
nanti malem mau nonton yah.” Sesaat setelah membaca chat dari dia aku berfikir,
kenapa apa yang dikatakan beberapa orang teman ku jadi kamu lakukan tut? Kalau
mereka tau kamu justru pergi menonton disaat pasanganmu sakit , artinya kau
menunjukan bahwa omongan mereka itu benar. Bahwa kamu memang seperti yang
mereka katakan. Seketika itu aku menyatakan keberatan akan kepergiannya untuk
menonton bersama teman-temannya. Bukan karena aku manja, bukan karena aku
mengekangmu, bukan karena aku ingin kau selalu ada saat ini. Tapi lebih karena,
aku tidak ingin kamu menjadi seperti kamu pikiran buruk teman-teman ku. Dan aku
bersyukur mengikuti permintaanku. Aku bersyukur kamu tidak pergi. Dan aku
bersyukur aku bisa mematahkan semua persepsi buruk orang di sekelilingku
tentang kamu.
Dari semua cerita diatas aku
ingin menceritakan kepada kalian para pembaca blog ini, Bahwa sesungguhnya SAKIT
itu adalah REJEKI. Bagaimana bisa??? Karena saat sakit dan kamu berada di
posisi terlemah, kamu akan melihat siapa orang yang benar-benar peduli terhadap
mu. Siapa orang yang akan membantumu. Siapa yang memang teman dan siapa yang
justru senang. Dan kamu bisa mengetahui apakah orang yang kamu sayang, memang
sayang kepadamu.
Sakit juga membawaku jauh lebih
dekat kepada ALLAH SWT. Ketika sakit doa kita akan lebih di dengarkan dan
dikabulkan. Ketika sakit, Allah akan memeluk kita dan berkata bahwa “Kamu KUAT
dan BISA”. Ketika sakit pun kita juga dapat rejeki istirahat sejenak dari
segala kesibukan dan rutinitas melelahkan. Dari sini aku belajar kembali
tentang arti semangat, realistis dan tindakan positif saat kita berada dalam
kondisi negative. Dan Aku percaya, tidak ada keburukan yang diberikan Allah SWT
kepada hambanya. Apa yang kita anggap buruk belum tentu buruk, begitupun
sebaliknya. Semoga kedepan kita bisa menjadi orang yang selalu di ridhoi di jalan-NYA.
J